oleh Elena Busch

Murid Darmasiswa 2018/2019 asal Jerman

Suatu hari saya sedang duduk di kafe yang nyaman bersama teman saya, Karina. Dia mengunjungi saya di kota Heidelberg, Jerman pada bulan Agustus lalu. Ketika itu udaranya hangat dan para pejalan kaki sangat menikmati suasana saat itu. Saya sudah lama sekali tidak berjumpa dengannya, oleh karena itu kami saling bercerita tentang banyak hal.  Pada kesempatan itu, Karina menunjukkan foto di Instagram tempat–tempat yang telah dikunjunginya selama liburan. Sewaktu kami berbincang, dia sering mengecek HP untuk melihat kabar terbaru. Dia sibuk dengan HP–nya, karena itu saya memandangi orang-orang di luar kafe. Nampak juga anak–anak sedang makan es krim, mahasiswa yang bersantai di dekat sungai dan pengamen bernyanyi di seberang jalan. Semuanya sungguh indah.

Setelah Karina selesai dan perhatiannya kembali tertuju kepada saya, lalu saya bercerita tentang studi dan kabar–kabar terbaru saya. Saat saya sedang asik bercerita, HP Karina terlihat mengeluarkan cahaya warna–warni, tanda adanya pesan notifikasi akun media sosial miliknya yaitu Facebook (FB), Whatsapp (WA), dan Instagram (IG). “Tunggu sebentar, ya”, ucapnya sembari memulai membaca pesan notifikasi tersebut. Meskipun demikian, saya tetap berbicara kepadanya. Namun di saat yang sama, ketidaksabaran dan kekesalan saya meningkat. Akhirnya, saya berhenti bicara karena dia tidak memperhatikan apa yang sedang saya bicarakan. Dia sudah terlanjur tenggelam dalam percakapan di HP dan tidak sadar bawa saya sudah berhenti bicara saat itu.

Media sosial adalah sebuah istilah untuk memudahkan komunikasi dengan cara menghubungkan orang–orang yang terpisah jarak dan ruang. Platform media sosial yang terkenal adalah Facebook, Instagram dan WhatsApp. Pada tahun 2018 lebih dari dua miliar orang menggunakan Facebook dan WhatsApp, sementara itu pengguna aktif Instagram mencapai satu miliar orang. Para pengguna sosial media dapat dengan mudah terhubung dengan berbagai orang di seluruh dunia, mereka juga bisa mengirim gambar dan bertukar pesan. Penggunaan media sosial tentu saja ada dampak positif dan negatifnya.

Pertama kita harus memahami apa itu media sosial dan cara kerjanya. Banyak platform media sosial, contohnya Facebook atau Instagram telah membuat kesan siapa saja dapat menggunakannya secara gratis. Tetapi itu semua hanya ilusi belaka. Anda tidak diharuskan membayar dengan uang tetapi membayar dengan data–data pribadi anda. Facebook dan Instagram adalah perusahaan yang bekerja dalam skala global yang ingin mengambil banyak keuntungan.

Untuk menghimpun data sebanyak mungkin, platform media sosial seperti Facebook dan Instagram turut serta mempekerjakan “Attention Engineers”. “Attention Engineers” bekerja dengan strategi psikologis yang sama seperti di kasino–kasino di Las Vegas, mereka merancang produk yang Anda gunakan (Facebook dan Instagram) agar membuat Anda lebih kecanduan. Lebih banyak waktu yang Anda habiskan pada platform mereka, lebih banyak data yang terhimpun dari Anda. Secara terus–menerus mereka memberikan reaksi atau respon positif secara cepat sehingga Anda merasa senang dan ingin menghabiskan lebih banyak waktu lagi. Contoh respon positif tersebut dapat berbentuk seperti Like, newsfeed dan pesan dari teman.

Secara bersamaan algoritma menganalisis segala perilaku Anda. Algoritma menghimpun data tersebut dari kata kunci yang Anda ketik pada mesin pencarian, gambar–gambar yang Anda beri tanda Like, orang–orang yang Anda cari, dan seberapa sering Anda melihat profil atau gambar tertentu. Semua data tersebut dijual oleh perusahaan kepada pihak ketiga. Begitulah perusahaan media sosial menghasilkan uang.

Mungkin Anda bertanya–tanya apa yang buruk dengan hal ini. Data tersebut dianalisis untuk mengetahui pola perilaku dan kepentingan Anda supaya perusahaan bisa memengaruhi dan memanipulasi Anda. Proses ini sangat cerdik dan orang tidak menyadari terjadinya proses ini. Dengan cara ini massa dimanipulasi oleh perusahaan, pemerintah atau institusi lain.

Tapi terdapat dampak negatif juga bagi Anda. Banyak orang menggunakan media sosial seperti Instagram untuk bersenang–senang. “Berapa pengikut (follower) yang saya miliki?” “Berapa orang yang menyukai gambar saya?” Ketika tidak ada Like baru maka orang–orang menjadi resah dan gugup karena mereka perlu mendapatkan pengakuan dengan banyaknya Like yang diberikan orang lain. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk membuat foto menggunakan filter yang lebih menarik sebelum mengunggahnya di Instagram supaya bisa mendapatkan lebih banyak Like. Dengan cara ini, kemungkinan Like dan pengikut akan semakin meningkat. Hal ini merupakan siklus yang terus menerus berulang.

Seperti teman saya Karina, secara terus–menerus memeriksa telepon genggamnya ketika ada pemberitahuan baru. Apabila mereka tidak mendapatkan pemberitahuan baru, mereka menjadi resah, gugup bahkan depresi. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku ini memiliki banyak konsekuensi di level berbeda. Tidak hanya efek negatif pada mata tetapi juga pada otak Anda sehingga dapat mengubah cara Anda dalam mengolah informasi dan membuat keputusan. Contohnya banyak orang tidak bisa memusatkan perhatian dalam waktu lama pada suatu pekerjaan karena mereka sering melihat layar ponsel untuk mengecek kabar terbaru. Perilaku ini berbahaya tidak hanya untuk orang dewasa tetapi juga anak dan remaja karena tubuh dan otak mereka belum berkembang secara lengkap. Penggunaan ponsel secara intensif secara nyata dapat memberikan efek negatif terhadap perkembangan mereka.

Bahaya lain dari Instagram adalah dari gambar–gambar yang ditampilkan kepada masyarakat. Sebelum orang–orang mengunggah foto di Instagram, foto–foto tersebut bisa saja sudah dimodifikasi sehingga hal itu menciptakan ilusi tentang kehidupan yang menyenangkan, hebat dan menantang, bahkan mungkin tragis. Biasanya orang–orang sering membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain. Mereka bertanya–tanya mengapa dirinya tidak ada kehidupan yang menyenangkan seperti yang dimiliki orang lain. Oleh sebab itu orang tersebut menjadi sedih, kesepian dan tidak bahagia. Pada satu titik, hal ini bisa berubah menjadi penyakit serius seperti depresi dan gangguan perilaku makan (eating disorder).

Instagram adalah salah satu platform media sosial untuk menciptakan ilusi. Sebagian besar gambar di Instagram tidak realistis. Di Instagram Anda menciptakan citra baru diri Anda dengan menentukan apa yang bisa dan tidak bisa dilihat orang lain. Saya yakin jarang ada orang yang membagikan foto mereka yang sedang menangis. Jadi karena itulah kita berpikir bahwa orang lain selalu gembira dan bahagia, meskipun hal itu tidak selalu benar. Instagram dan platform media sosial lainnya menciptakan citra sebuah dunia di mana Anda dapat melarikan diri ketika kehidupan nyata Anda terasa berat. Tetapi semua itu tidak nyata.

Setelah Karina dan saya berpisah, saya pergi ke stasiun bus. Sambil menunggu bus, saya memperhatikan sekelompok orang yang memeriksa ponsel mereka masing–masing. Alih–alih mengobrol satu sama lain, mereka semua tenggelam pada dunia ponsel mereka. Bukankah itu hal yang ironis bahwa kita menyebut platform tersebut “media sosial”, sementara hal itu membuat kita menjadi kurang sosial dengan orang-orang di sekitar kita, khususnya yang berarti bagi kita?

Dari seberang jalan, saya juga memperhatikan dua orang anak yang sedang bermain sepak bola sambil tertawa. Pemandangan seperti itu seharusnya membuat kita semua tersadar bahwa hidup kita terjadi di dunia nyata. Persahabatan sejati diciptakan di dunia nyata. Namun apakah orang–orang di stasiun dimana saya menunggu bus juga ingat akan hal itu?