oleh Michael Sadich

Murid Privat asal USA

Bermain olahraga di Indonesia terkenal, khususnya untuk anak-anak. Namun, ketika seseorang menjadi dewasa, mereka sering berhenti berolahraga. Selama 2 minggu, saya mewawancarai beberapa orang tentang topik tersebut supaya saya bisa menggali jawaban dan mengerti alasan-alasan mereka. Walaupun ada beberapa perbedaan dari jawaban mereka, juga ada kesamaan. Pada umumnya, mengapa dewasa di Indonesia sering berhenti berolahraga ketika mereka menjadi dewasa (lebih dari 18 tahun)?

Dua minggu yang lalu saya pergi ke Kulon Progo. Sementara saya ada di sana, saya mewawancarai salah satu pemilik angkringan di pinggir jalan, yaitu Pak Yoyo. Saya bertanya kepada Pak Yoyo mengenai topik olahraga di Indonesia. Sebelum saya menulis jawaban Pak Yoyo, saya mau memperkenalkan dia kepada para pembaca. Pak Yoyo lahir dan dibesarkan di Kulon Progo. Dia berusia 56 tahun dan punya satu istri dan dua anak perempuan. Selain itu, Pak Yoyo adalah orang yang kurang mampu. Dia menerima bantuan dari pemerintah untuk mencukupi keluarganya karena gajinya tidak cukup besar untuk membiayai istri dan dua anaknya. Oleh karena itu, dia berhak menerima kartu miskin supaya dia dan keluarganya bisa menerima bantuan. Waktu saya bertanya kepada Pak Yoyo, “Mengapa orang yang sudah dewasa sering berhenti berolahraga?” Dia menjawab, “Karena setelah anak-anak berusia 15 tahun lebih, mereka harus mulai bekerja untuk menolong keluarganya.” Mereka sering bekerja sebagai petani atau peternak di desanya. Oleh karena itu, mereka tidak mempunyai waktu luang untuk berolahraga.

Satu minggu yang lalu, saya harus pergi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan. Waktu saya berangkat dari rumah saya, saya mempekerjakan supir Go-Car untuk mengantar saya ke bandara Adisucipto di Yogyakarta. Saya juga menanyakan supir saya yang bernama Pak Anto, beberapa pertanyaan mengenai olahraga di Indonesia. Pak Anto adalah orang yang cukup mampu membiayai keluarganya. Sekarang beliau tinggal di Sleman dan dulu bekerja di Jakarta selama 4 tahun. Walaupun jawaban Pak Anto mirip dengan jawaban Pak Yoyo, yaitu kebanyakan dewasa di Indonesia berhenti berolahraga setelah mereka lulus SMA, dia berkata kepada saya bahwa banyak orang masih ada cukup waktu untuk berolahraga. Pak Anto menikmati bersepeda dengan kelompok atau klub di Yogya. Waktu dia mempunyai waktu luang, dia sering mengikuti kelompok itu untuk bersepeda di sekeliling Yogyakarta. Dia juga menikmati bermain bulu tangkis. Namun, dia mengakui bahwa masih ada banyak orang yang tidak mempunyai cukup waktu luang untuk berolahraga karena mereka terlalu sibuk belajar atau bekerja.

Selain pertanyaan yang saya tanyakan kepada Pak Anto mengenai olahraga, saya juga bertanya kepada dia tentang menonton pertandingan sepak bola di Yogyakarta di stadion sepak bola. Rumah saya kira-kira 15 menit dari Stadion Maguwoharjo di Sleman dekat Jogja Bay Waterpark. Saya tertarik menonton pertandingan sepak bola di stadion tersebut tetapi kebanyakan orang Indonesia memberitahu saya bahwa ide ini kurang bijak. Menurut Pak Anto, kalau seseorang bukan penonton yang fanatik, mereka sering menghindari pergi ke stadion untuk menonton pertandingan sepak bola karena tempat tersebut kurang aman. Kalau tim para penonton kalah, mereka melakukan hal-hal yang tidak sopan, seperti melempar botol-botol, memukuli penonton yang lain, bahkan merusak mobil-mobil di depan stadion tersebut. Oleh karena itu, orang Indonesia yang bukan penonton fanatik jarang (atau tidak pernah) pergi ke stadion sepak bola untuk menonton pertandingan. Kalau mereka mau menonton pertandingan sepak bola itu, lebih aman kalau mereka menontonnya di televisi.

Sebagai kesimpulan, kebanyakan orang Indonesia berhenti olahraga setelah mereka berusia 15 tahun lebih atau lulus SMA karena mereka terlalu sibuk belajar atau bekerja. Mereka mempunyai prioritas yang berbeda ketika mereka menjadi lebih dewasa dan tahu/sadar/menyadari bahwa mereka mempunyai tanggung jawab yang lain ketika mereka berusia lebih dari 15 tahun.